Maafin Devan Yaa!

 

Maafin Devan Yaa!

Karya Fatmawati

 

Siang ini matahari sangat terik dan pepohonan tak ada yang bergoyang tanda bahwa tak ada angin yang berhembus. Bunyi klakson sepeda motor yang berlalu-lalang terdengar sampai ke dalam rumah. Suara percikan minyak ikan pada penggorengan di dapur juga sampai ke telinga. Di balik jendela terlihat Ayah Devan sedang bersiul sambil membersihkan mobil di samping rumah, sedangkan Devan sedang asyik menyisir rambut di depan cermin, berbaju kaos merah, dan bercelana jeans pendek kesukaannya.

“Ayah, ayo kita sepedaan di lapangan seberang yuk!” Ajak Devan.

“Besok aja, hari ini ayah sibuk, harinya juga panas.” Tutur Ayah Devan.

“Kan ayah udah janji, kalau hari ini kita ngelancarin Devan naik sepeda.” Tuntut Devan.

“Iya, iya, kita latihan naik sepeda lagi.” Kata Ayah Devan.

Devan langsung menyeret sepedanya ke halaman rumah. Ayahnya pun menggiringnya menyeberang jalan menuju ke lapangan seberang. Ini sudah keempat kalinya Devan belajar bersepeda dan ia termasuk anak cekatan sehingga lekas bisa bersepeda.

Matahari mulai turun dan tertutup awan. Devan pulang  dengan hati yang sangat gembira karena hari ini ia bersepeda tanpa pegangan dari ayahnya.

“Devan, udah sore, kamu mandi dulu!” Suruh Mama Devan.

“Gak ah, aku mau makan.” Sahut Devan.

“Tapi, itu kan kamu kotor tuh dari atas sampai bawah.” Kata Mama Devan lebih tegas.

“Ya udah, nanti aja mandinya, yuk kita makan, tapi cuci tangan dulu ya!” Ajak Ayah Devan.

“Gak, aku udah laper.” Jawab Devan.

“Tanganmu kotor, Devan. Harus cuci tangan dulu, itu banyak kumannya nanti sakit.” Pinta Mama Devan dengan nada meninggi.

Devan tak menghiraukan orang tuanya dan langsung menyantap makanan yang sudah ada di depan matanya tanpa mencuci tangan. Setelah makan, Devan pun langsung ke kamar dan tertidur tanpa mandi atau mencuci kakinya. Ini kebiasaan buruk Devan kalau setelah bermain di luar pasti tidak mau mandi atau mencuci tangan dan kakinya. Orang tuanya juga sudah sering menegur dan mengingatkan Devan, tetapi ia tetap saja tidak mendengarkan.

Hari sudah pukul 7 malam, Devan pun terbangun dari tidurnya.

“Mamaa, mamaa!” Devan memanggil sambil meringis.

“Ada apa Devan?” Tanya Mama Devan panik.

Tanpa berkata apa-apa Devan menangis kesakitan sambil memegangi perutnya. Beberapa saat kemudian Devan pun muntah di atas tempat tidurnya. Dengan perasaan panik orang tua Devan segera membawa Devan ke rumah sakit.

***

“Ayah, Mama, Maafin Devan yaa, Devan gak dengerin kata Ayah dan Mama. Setelah ini, Devan pasti selalu cuci tangan, cuci kaki, dan mandi kalau habis main.” Devan berjanji sambil berbaring menatap orang tuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sha Juga Ingin Seperti Mereka, Ayah!