Sha Juga Ingin Seperti Mereka, Ayah!
Sha Juga Ingin
Seperti Mereka, Ayah!
Karya Fatmawati
Embun pagi bertaburan
membasahi dedaunan. Kicauan burung bernyanyi terdengar begitu indah. Dingin
pagi sangat terasa pada kulit, membuat Sha tak ingin melepas jaket hingga ke dalam
kelas. Lonceng pun berbunyi tanda jam pelajaran telah berganti.
“Sha, coba lihat
deh aku punya buku yang sampulnya unicorn.”
Nayla bercerita dengan girang.
“Iya bagus Nay, wah
andai aku juga punya buku kayak gitu.” Kata Sha dengan nada antusias.
“Sha, Nay, aku
baru aja dibelikan tas baru sama mamaku. Cantikkan ada princessnya?” Sambut Riri seraya menunjukkan tas barunya.
“Waah cantikya,
besok aku juga mau beli tas kayak kamu ah, nanti aku bilang ke mamaku.” Jawab
Nayla.
“Iyaa cantik Ri.”
Jawab Sha dengan hati sedikit iri.
Sepulang sekolah
Sha hanya diam. Ia merasa sedih karena tak punya barang baru seperti teman-temannya.
Bahkan, barang-barang cantik itu dibelikan oleh mama mereka sedangkan Sha hanya
punya seorang ayah. Ayah Sha tidak mungkin membelikan barang seperti itu karena
sepatunya yang bolong saja hanya dijahit agar tidak membeli yang baru.
Setelah mengantar
Sha pulang ke rumah kotrakan, ayahnya pergi lagi melanjutkan bekerja sebagai
ojek online hingga larut malam. Tepat
setelah mandi sore, Sha tidak sengaja melihat uang dua puluh ribu rupiah di
atas televisi. Tanpa berpikir panjang Sha pun mengambil uang itu karena baginya
uang itu pasti cukup untuk membeli buku unicorn
yang ia inginkan. Perasaan hati Sha saat itu sangat bahagia.
Keesokan harinya ayah
Sha pulang dengan wajah berbeda.
“Ayah,
ayah kenapa?” Tanya Sha sambil mendekati ayahnya.
“Tak
apa, Sha. Ayah hanya terkena musibah hari ini.” Jawab Ayah Sha lemah.
Ayahnya
pun menceritakan bahwa ada pelanggan yang memesan makanan, tetapi tidak mau
membayar makanan yang sudah dipesannya dengan alasan yang tidak masuk akal sehingga
ayah Sha harus mengganti dengan uang sendiri. Karena hal itu, ayah Sha
mendapatkan sanksi dari pihak menejemen tempat ayah Sha bekerja. Selain itu, ayah
Sha juga menceritakan bahwa uang untuk membeli beras esok hari juga hilang di
atas televisi.
Mendengar
cerita ayahnya, Sha terkejut dan merasa bersalah.
“Ayah,
sejujurnya uang dia atas televisi Sha yang mengambilnya. Sha iri dengan
teman-teman Sha yang memiliki buku dan tas baru. Maafkan Sha, Ayah!” Tutur Sha
mengakui perbuatannya.
“Sha,
lain kali Sha harus minta izin sebelum mengambil sesuatu. Sha juga harus
belajar sabar. Nanti, kalau ayah dapat uang lebih, ayah akan belikan apapun yang
Sha inginkan. Tapi, ayah bangga karena Sha sudah mau jujur dengan ayah.” Jawab
Ayah Sha dengan lembut sambil memeluk anaknya.
Komentar
Posting Komentar